Distanak Kukar Percepat Pendataan dan Usulan Bantuan Antisipasi Dampak Kemarau pada Petani

img

Foto: Plt Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani. (POSKOTAKALTIMNEWS)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Upaya percepatan pendataan dan pengusulan bantuan untuk mengantisipasi dampak kemarau kini tengah dilakukan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara (Distanak Kukar).

Langkah ini diambil sebagai respons atas mulai dirasakannya kekeringan oleh para petani, khususnya pada komoditas sayuran yang rentan terhadap keterbatasan air.

Di lapangan, kondisi tersebut sudah dirasakan Sumarno, petani asal Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong.

Ia menanam cabai, ubi jalar, dan kangkung, namun belakangan tanaman yang dirawatnya mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan. Daun menguning dan layu menjadi pemandangan yang kian sering ditemui di lahannya.

Sumarno mengaku kondisi kemarau saat ini cukup menyulitkan bagi petani sayur seperti dirinya. Ia menyebut minimnya hujan membuat tanah cepat kering dan tanaman tidak berkembang optimal.

“Hujan jarang sekali turun, jadi tanah cepat kering. Tanaman saya banyak yang mulai layu,” keluhnya, Sabtu (25/4/2026).

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap hasil panen ke depan jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya solusi.

“Kalau terus begini, kami takut gagal panen. Apalagi cabai sama kangkung itu butuh air yang cukup, kalau kurang langsung kelihatan dampaknya,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani memastikan pihaknya tidak tinggal diam.

Melalui penyuluh pertanian, pihaknya saat ini tengah turun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan petani.

“Jadi sekarang kami lagi mengidentifikasi. Kami identifikasi kelompok-kelompok mana saja yang membutuhkan penanganan untuk antisipasi kemarau. Kami melalui penyuluh turun ke lapangan untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi tersebut, termasuk kebutuhan apa saja yang diperlukan,” ujarnya.

Pendataan tersebut, lanjutnya, akan menjadi dasar dalam menentukan bentuk bantuan yang diajukan. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah ketersediaan pompa air bagi petani yang belum memiliki sarana pengairan.

“Jadi kami tinggal menunggu data dari lapangan, kemudian kami rekap dan kirimkan ke pusat, karena bantuan alat untuk musim seperti ini tersedia di pusat,” jelasnya.

Rifani menegaskan, proses pengusulan bantuan ditargetkan berjalan cepat. Pihaknya diberi batas waktu hingga akhir April untuk menyampaikan usulan ke pemerintah pusat, sehingga langkah penanganan dapat segera direalisasikan.

“Kalau bisa secepatnya. Kami ditargetkan akhir April usulan sudah masuk ke pusat,” kata dia.

Meski demikian, ia belum dapat memastikan potensi gagal panen yang mungkin terjadi.

Pasalnya, masih ada peluang hujan turun hingga bulan Mei yang diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman petani.

Ia mengungkapkan bahwa puncak kemarau diperkirakan akan terjadi pada bulan Juni hingga Agustus.

“Jadi petani diharapkan bisa menyambung kebutuhan air sampai Mei sebagai persiapan jika nanti benar-benar tidak ada hujan,” tutupnya. (kriz)